FESTIVAL KUWUNG

Standard

Banyuwngi Culture Festival

 

Festival kuwung adalah pawai tahunan, yang menjadi etalase yang memamerkan keaslian Banyuwangi, baik kekayaan budaya, adat, maupaun potensi unggulan yang ditampilkan oleh perwakilan 24 kecamatan se Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak seribu orang peserta berpawai melintasi sepanjang jalan protocol sejauh 2 kilometer. Rutenya meliputi start dari depan kantor bupati Banyuwangi di jalan A. Yani, jalan PB. Sudirman, jalan Satsuit Tubun sampai finish di Taman Blambangan. Selain berbentuk parade berjalan, Festival Kuwung juga dikemas dengan parade mobil hias. Potensi local, seperti, kerajinan maupun destinasi wisata juga dikemas dalam festival kuwung. Kemeriahan semakin terasa dengan iringan music khas, seperti hadrah, kundaran, dan jaranan dalam festival budaya otentik Banyuwangi ini.

Tempat                                : Kota Banyuwangi

Hati tanggal        : Sabtu, 14 Desember 2013

 

 

BANYUWANGI CULTURE FESTIVAL

The Kuwung Festival is a carnival which show the original of Banyuwangi culture and superiority of 24 districts in Banyuwangi regency. Thousand of performers walk on the main street about 2 kilometers. The carnival started in front of the government office at A. Yani street and than passed PB. Sudirman and Satsuit Tubun street until finish at Blambangan Park. In the Kuwung Festival, we also can enjoy many decorated cars which show a potential of handicraft and tourist destination. The authentic parade sounds spectacular with music of hadrah, kundaran and jaranan

Place                     : Banyuwnagi City

Time                      : Saturday, December 14, 2013

Advertisements

HARI JADI BANYUWANGI

Standard

Anniversary of Banyuwnagi

Peringatan Hari Jadi Banyuwangi merupakan kegiatan rutin setiap tahun untuk menggugah kembali semangat serta keteladanan Mas Rempeg atau Pangeran Jogopati. Yang terkenal ulet, gigih, dan pantang menyerah dalam mempertahankan tanah Blambangan dengan menampilkan berbagai seni dan budaya antara lain:

–          Pawai Budaya

–          Festival Kesenian Daerah

–          Hiburan Rakyat

–          Pemilihan Jebeng Thulek

Tempat                                : Kota Banyuwangi

Hari, tanggal       : Rabu, 18 Desember 2013

 

 

The anniversary of Banyuwangi

The Anniversary of Banyuwangi is commemorated annually by memorizing the hero’s spirit, Rempeg Jogopati, who was against the Dutch troops that colonized Blambangan. This festival is highlight by a various culture and art parade in the form of traditional dancer and songs from all of Banyuwangi  regencies. The events such as:

-culture parade

-The Festival Of Traditional Art

-Folk Entertainment

-Jebeng Thulik Election

Place                     : Banyuwangi City

Time                      : Wednesday, December 18, 2013

PETIK LAUT MUNCAR

Standard

Muncar Sea Offering Ceremony

 

Petik Laut Muncar sudah ada sejak Luhpangpang berkembang menjadi pusat kegiatan penangkapan ikan. Pada mulanya upacara dilaksankan berdasarkan pranatamangsa kemudian dilakukan setiap bulan Sura.  Upcara ini bernilai sacral dengan acara puncaknya adalah melarung perahu kecil yang berisi sesaji yang terdiri dari kepala kambing, berbagai macam kue, buah-buahan, pancing emas, candu, dan dua ekor ayam jantan yang masih hidup.

Pada malam harinya, di tempat perahu untuk sesaji dipersiapkan dilakukan tirakatan. Di beberapa surau atau rumah diadakan pengajian atau semaan sebelum perahu dilarung. Perahu sesaji tersebut diarak diperkampungan dan kegiatan ini disebut dengan idher bumi.

Selanjutnya perahu tersebut dilarung diiringi oleh ratusan perahu nelayan yang dihiasi dengan umbul-umbul. Perjalanan diteruskan ke Sembulungan, ke makam Sayyid Yusuf, orang pertama yang membuka daerah tersebut. Di sinilah biasanya tari gandrung dipentaskan. Sepulang dari Sembulungan perahu nelayan yang akan mendarat diguyur dengan air laut yang digambarkan sebagai guyuran Shang Hyang Iwak, sebagai dewi laut.

Tempat                                : TPI Muncar

Hari, tanggal       : Selasa, 19 November 2013

 

 

MUNCAR SEA OFFERING CEREMONY

The Muncar Sea Offering Ceremony has existed since the development of Luhpangpang became the central of catching fish activities. The ceremony was done based on the “pranatmangsa” but, the, it is always done every Suro month (Javanese Calendar). Muncar Sea Offering is a sacral activity. In this ceremony, the miniature of fisherman’s ship with full of sesaji such as comprise of the head of goat, various cakes, fruits, gold fishing hook, opium, and two alive cocks are drifted into the sea.

Un the night preparing the sesaji in te ship miniature, the people stay awake all night. Some f them read the holy Qur’an. In the morning before the ship miniature is drifted into the sea, it is brought around the village which is called “idher bumi”. The ship miniature is brought into parade in the sea followed by hundred of decorated fisherman’s ship and drifted. After that, the people visit the tomb of Sayid Yusuf, the first man who opened Muncar area, at Sembulungan. Gandrung dance is performed here.

Finally, the people finish their activities and back to the beach. The people are bathed with sea water. It symbolized the blessing of Syang Hyang Iwak, a sea goddess to them.

Place                     : TPI Muncar Beach

Time                      : Tuesday, November 19, 2013

UPACARA RITUAL KEBO-KEBOAN ALAS MALANG

Standard

Kebo-keboan alas malang ritual ceremony

Awalnya, upacara ini diadakan untukmemohon turunnya hujan saat kemarau panjang. Dengan turunnya maka petani akan bisa memulai bercocok tanam.

Dalam upacara ini, atraksi menarik yang bisa disaksikan adalah: saat persiapan, pada malam hari sebelum acara pada keesokan hari, masyarkaat bergotong royong memasang hiasan di sepanjang jalan utama desa, yang terdiri dari hasil panen berupa pala gumantung (buah-buahan), pala kependet (umbi-umbian) dan pala kesimpir (kacang-kacangan). Semua ini melambangkan kesuburan dan kesejahteraan.

Prosesi upacara, diawali dengan selamatan di tengah jalan pada pagi hari, sesaji kue dan nasi tumpeng diberi doa yang dipimpin oleh kyai, kemudian dibagikan kepada para pengunjung dan masyarakt sekitar. Kue dan makanan disiapkan oleh masing-masing keluarga dan disajikan untuk para tamu dan sanak family yang berkunjung.

Selanjutnya, acara idher bumi yang diikuti oleh beberapa laki-laki bertubuh kekar dengan dandanan dan bertingkah seperti kerbau yang dihalau oleh para petani lengkap dengan bajaknya. Seorang putri cantik melambangkan Dewi Sri ditandu oleh beberapa pengawal dengan pakaian khas untuk meramaikan suasana. Musik dan tari tradisional mengiringi arak-arakan ini.

Sebagai puncak acara adalah prosesi membajak sawah dan menanam bibit padi. Para kerbau manusia seperti kesurupan mengejar siapa pun yang mencoba mengambil bibit padi yang ditanam. Masyarkat berebut mendapatkan bibit padi itu karena percaya bisa dipakai tolak bala atau mendatangkan keberuntungan. Kegiatan ini berakhir pada tengah hari. Sementra pada sore dan malam kesenian tradisional disajikan, termasuk pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Tempat                                : Desa Alas Malang, Kec. Singonjuruh

Hari, tanggal       : Minggu, 17 Nopember 2013

Waktu                   : 07.00 – selesai

 

 

KEBO-KEBOAN ALAS MALANG RITUAL CEREMONY

It is considered as the most unique ceremony on this island which has the aspects of fertility rite (relates to fertile, healthy, prosperous, growth and purification ceremony). Thanks giving an expression of gratitude to god for peaceful, happiness and better crops for the forthcoming year. And this ceremony used to be done for requesting the rainfall and better cultivation.

Visitor are always welcomed to observe and participate this interesting ceremony. A night before, along main road is decorated with all different result of harvest such as banana, oranges, cassava, soya bean, and many other crops. They are all symbolizing prosperity.

Before the ritual of kebo-keboan may take place, many tumpeng (rice cones) have been made in the morning tumpeng, cakes, and other offering are put on the road after being blessed by kyai (a muslim preacher). Selamatan (praying) is over the tumpeng may be eaten and distributed to all visitor and to the community. Cake and special meals made by every household are offered and served to visitor who attend the events.

Afterward, the procession of soil is held. Some strong big men colored themselves black, behaving strangely as wild water buffaloes chased by the farmer with their plows, while, a beautiful girl symbolizing Dewi Sri, The Goddess Of Padi is shouldered by her followers appearing the interesting traditional costume. This procession is highlighted by traditional dances and gamelan music orchestra.

The climax of this events is the time of plowing and planting rice. When trance buffalomen chasing after anyone who tries to take the rice seed. The seed is believed to have supernatural power toward of plant diseases, good crops, and to bring fortune t those who are able to get it.

The ceremony ended at midday. In the afternoon, traditional dances as well as the shadow puppet show are performed.

Place                     : Alas Malang Village, Sub District Of Singonjuruh

Date                      : Sunday, November 17, 2013

Time                      : 07.00

PETIK LAUT GRAJAGAN

Standard

Grajagan Sea Offering Ceremony

 

Upacara ini merupakan adat yang dilaksanakan oleh para nelayan di Grajagan. Upacara dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas keselamatan dan meningkatnya hasil laut. Berbagai kesenian tradisional dipentaskan untuk memeriahkan pesta ini.

Tempat                                                : TPI Pantai Grajagan

Hari, tanggal                       : Kamis, 14 November 2013

 

 

GRAJAGAN SEA OFFERING CEREMONY

The sea offering constitutes a traditional ceremony that is organized by the fishermen. It is as the gratitude to god for the save and the increasing catching of the fish. In this event, the traditional performances highlight the celebration.

Place                     : TPI Grajagan

Time                      : Thursday, November 14, 2013

UPACARA RITUAL KEBOAN ALIYAN

Standard

Keboan Aliyan Ritual Ceremony

Upacara tahunan yang terunik di pulai ini, berhubungan dengan situs kesuburan, syukuran serta doa kepada tuhan agar para petani diberi keselamatan dan kesejahteraan serta mendapatkan panen yang melimpah di masa yang akan datang.

Awalnya upacara ini diadakan untuk memohon turunnya hujan saat kemarau panjang, dengan turunnya hujan berarti bercocok tanam segera bisa dilakukan.

Upacara Keboan, atraksi menarik yang bisa kita saksikan adalah: saat persiapan, pada malam hari sebelum acara pada keesokan hari, masyarkaat bergotong royong memasang hiasan di sepanjang jalan utama desa, yang terdiri dari hasil panen berupa pala gumantung (buah-buahan), pala kependet (umbi-umbian) dan pala kesimpir (kacang-kacangan). Semua ini melambangkan kesuburan dan kesejahteraan.

Prosesi upacara diawali dengan selamatan di tengah jalan pada pagi hari, sesaji, kue, dan nasi tumpeng diberi doa yang dipimpin oleh kyai, kemudian dibagikan kepada para pengunjung dan masyarakat sekitar. Kue dan makanan disiapkan oleh masing-masing keluarga dan disajikan untuk para tamu dan sanak family yang berkunjung.

Selanjutnya acara idher bumi yang diikuti oleh beberapa laki-laki bertubuh kekar dengan dandanan dan bertingkah aneh seperti kerbau yang dihalau oleh para petani sana, musik dan tari tradisional mengiringi arak-arakan ini.

Sebagai puncak acara adalah prosesi membajak sawah dan menanam bibit padi. Para kerbau manusia seperti kesurupan mengejar siapapun yang mencoba mengambil bibit padi yang ditanam. Masyarakat berebut untuk mendapatkan bibit padi itu karena dipercaya bisa digunakan sebagai tolak bala maupun keberuntungan. Kegiatan ini berakhir pada tengah hari. Sementara pada sore dan malam hari, kesenian tradisional disajikan, termasuk pementasan wayang kulit semalam suntuk.

Tempat                                : Desa Aliyan, Kec. Rogojampi

Hari, tanggal       : Minggu, 10 November 2013

Waktu:                                 07.00 – Selesai

 

 

KEBOAN ALIYAN RITUAL CEREMONY

It is considered as the most unique ceremony on this island which has the aspects of fertility rite (relates to fertile, healthy, prosperous, growth and purification ceremony). Thanks giving an expression of gratitude to god for peaceful, happiness and better crops for the forthcoming year. And this ceremony used to be done for requesting the rainfall and better cultivation.

Visitor are always welcomed to observe and participate this interesting ceremony. A night before, along main road is decorated with all different result of harvest such as banana, oranges, cassava, soya bean, and many other crops. They are all symbolizing prosperity.

Before the ritual of Keboan Aliyan may take place, many tumpeng (rice cones) have been made in the morning tumpeng, cakes, and other offering are put on the road after being blessed by kyai (a Muslim preacher). Selamatan (praying) is over the tumpeng may be eaten and distributed to all visitor and to the community. Cake and special meals made by every household are offered and served to visitor who attend the events.

Afterward, the procession of soil is held. Some strong big men colored themselves black, behaving strangely as wild water buffaloes chased by the farmer with their plows, while, a beautiful girl symbolizing Dewi Sri, The Goddess Of Padi is shouldered by her followers appearing the interesting traditional costume. This procession is highlighted by traditional dances and gamelan music orchestra.

The climax of this events is the time of plowing and planting rice. When trance buffalomen chasing after anyone who tries to take the rice seed. The seed is believed to have supernatural power toward of plant diseases, good crops, and to bring fortune t those who are able to get it.

The ceremony ended at midday. tn the afternoon, traditional dances as well as the wayang shadow puppet show are performed.

Place                     : Aliyan Village, Sub District Of Rogojampi

Date                      : Sunday, November 10, 2013

Time                      : 07.00 am

JAMASAN Dan PAMERAN PUSAKA TOSAN AJI

Standard

Washing And Tosan Aji Heirlooms Exhibition

Muslim Jawa Using merayakan tahun barunya yang jatuh pada hari pertama di bulan Suro (Kalender Jawa) dengan berbagai cara. Salah satu diantaranya adalah mengadakan pameran pusaka peniggalan bersejarah dan sekaligus upacara jamasan, yaitu prosesi memandikan dan membersihkan pusaka-pusaka keramat.

Acara ini terbuka untuk umum, dimaksudkan agar generasi muda dan masyarakat pada umumnya mau menghargai karya seni dan budaya tradisional.

Tempat                                : Museum Blambangan

Hari, tanggal       : Selasa – Senin, 5 – 11 November 2013

 

 

WASHING AND TOSAN AJI HEIRLOOMS EXHIBITION

Javanese and Usingnese Muslims celebrate the Islamic new year which begins on the first day of the month of Suro by doing “washing heirlooms and exhibition”. This event is held for all community, while the aim of this exhibition is to stimulate the interest of the community and young generation in appreciating art and traditional culture.

Place                     : Blambangan Museum

Time                      : Tuseday – Monday, November 5 – 11, 2013