SEBLANG OLEHSARI

Standard

Seblang Olehsari

 

Seblang merupakan upacara bersih desa untuk menolak bala yang diwujudkan dalam pementasan kesenian sakral “seblang” yang berbau mistis/magis. Seblang olehsari dimainkan oleh wnaita muda selama tujuh hari berturut-turut dalam keadaan tidak sadar/trance. Gending yang dimainkan sejumlah 28 dan dinyanyikan oleh beberapa sinden.

Sebelum ritual seblang dilaksankan, pada malam hari sebelumnya masyarkat desa menggelar selamatan yang dikuti oleh seluruh warga. Pelaksanaan ritual seblang dilaksanakan tujuh hari setiap sore dan prosesinya sama, kecuali pada hari terakhir ada prosesi seblang idher bumi, keliling kampung.

Pada prosesi gending “kembang dhermo”, seblang menjual bunga. Bunga itu ditancapkan pada sebatang bambu kecil yang terdiri tiga kuntum bunga sehingga mudah untuk dibawa. Hampir semua masyarakat desa, para penonton, berebut untuk membeli bunga itu. Bunga-bunga tersebut disimpan untuk anak-anak atau untuk diletakkan di suatu tempat tertentu di rumah maupun di sawah yang diperaya sebagai tolak bala atau mengusir pengaruh jahat, bala penyakit maupun pengundang keberuntungan.

Prosesi berikutnya yang disebut “tundikan”, di mana seblang mengundang tamu atau penonton untuk menari bersama di atas meja, seblang  mengajak berkomunikasi dengan penonton dengan cara melemparkan selendang atau sampur kepada penonton.

Dalam keadaan kesurupan dan mata tertutup seblang menunjuk kearah penonton di mana selendang yang dilemparkannya tadi terjatuh atau mengenai seseorang. Penonton berharap bisa mendapatkan tundik ini dan menari bersama seblang, karena dipercaya ia akan mendapat keberuntungan.

 

Tenpat                  : Desa Olehsari, Kec. Glagah

Hari, tanggal       : Rabu, 14 Agustus 2013

Jam                                        : 13.00 – 17.00 WIB

 

 

SEBLANG OLEHSARI

Seblang Olehsari constitutes a village purification activity to word off misfortune. In this event is performed a seblang dance, a sacred and mystical dance done by a young girls dancer. It is performed for seven days continually in a trace condition. The chorus consist of 28 songs sung by many singers.

A night before the ritual begins, a great sacrificial meal (selametan) is held in all family compound done by all villagers.

The seblang olehsari ritual the sessions are always carried out during seven consecutive afternoons. Only on the last day which differs from the previous ones. When the chorus musicians begin kembang dermo, the song that is always used for the flower selling ritual (dermo means making donation). The flowers are struck onto small three-pronged bamboo sticks, and can therefore easily in small bundles.

Some village, onlookers want to buy those flower. Many flowers are bought and given to children, put or hang at special place in house or rice field or lay the flowers in the head. It is believed that these flowers have a wholesome influence or magical power to get rid off devilish power, it will also protect the owner against disease and misfortune.

The next stage of the ritual is called “tundikan”, in where the seblang has to dance on the table with various members of the audience. The seblang invites the audience by throwing the veil away and points in the direction where it disappeared in the audience.

Place                     : Olehsari Willage, Sub District Of Glagah

Time                      : Wednesday, August 14, 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s